Mitos Soal Charger Baterai Yang Harus Semua Tahu

Ahmad Arif Sakti, seorang yang kuliah dulu tugas akhirnya tentang charger controller buat panel surya. Beliau memaparkan tentang beberapa mitos soal charger baterai pada sebuah grup facebook Poco F2 Pro Indonesia mc.

1. Baterai dalam pemakaiannya jangan sampai sampai 0% karena bikin cepet rusak

Ini bisa jadi benar dan bisa juga tidak. Karena sebenarnya yang merusak itu kalau kita discharger baterai sampai teganganya dibawah 3V (tegangan baterai salah satu indikator berapa energi/charge yang ada pada baterai). Cuma produsen smartphone biasanya sudah me limit maksimum tegangan baterai itu turun. Jadi 0% pun biasanya masih pada kisaran 3.3v paling rendahnya, yang jadi masalah adalah terkadang fitur keamanan itu tidak jalan. Smartphone terus nyedot sampe tegangan drop lebih rendah dari 3V. Biasanya baterai tidak bisa dicharge lagi karena kalau dicharger pun bisa menimbulkan panas dan baterai bisa terbakar.

2. Panas bisa memperpendek umur baterai

Tabel 1

Benar tapi tidak signifikan dan berbahaya juga. Karena baterai lithium pada smartphone sudah terbakar, makanya produsen smartphone biasanya memberi sensor suhu pada baterai. pada Tabel 1 ada daftar suhu vs kapasitas baterai apabila disimpan dalam 1 tahun. Cuma secara umum tidak signifikan, karena kita pake di suhu ruang antara 25-45 Celsius (kecuali baterai kita simpen di kulkas wkwkwk). Panas dijaga lebih kearah safety dari si baterai sendiri supaya tidak overheat dan terbakar.

3. Charger sebaiknya sampe 80% aja biar baterai awet?

Tabel 2

Jawabannya iya. Karena kalau kita charger sampai 100% biasanya pabrikan smartphone nge set pada tegangan 4.2V. Nah ini yang buat baterai jadi stress dan buat baterai lebih cepet keilangan kapasitasnya. Pada Tabel 2 ada keterangan berapa banyak siklus/cycle smartphone maksimum vs tegangan/persen charger smartphone.

Baca Juga: Mi Charger 120W Generasi Ke-2, Banyak Proteksi Cerdasnya

Simpelnya seperti ini, kalau kita charger baterai sampe 80%, baterai akan lebih awet 3x lipat daripada charger sampe 100%Kalau kita charger sampe 60%, baterai lebih awet 8x lipat daripada kita charger sampai 100%. Kalau kita charger 40% artinya kita kurang kerjaan, ngapain hidup seharian cuma ngurusin charger baterai smartphone doang.

4. Charger sampe sisa kurang dari 20% bisa memperpendek umur baterai

Tabel 3

Jawabannya tergantung. Karena harus melihat posisi awal charger ada pada berapa % ? Yang berpengaruh signifikan itu adalah DOD (Depth of Discharger) atau berapa dalam kita menghabiskan baterai nya. Contoh kalau kita charge baterai 50% trus kita habiskan sampe 10% artinya DOD nya 40%. Ini bakal awet banget dari pada kita charge sampai 100%. Tapi kita habiskan sampe 40% (DOD 60%). Pada Tabel 3 ada relasi antara DOD sama cycle baterai.

Baca Juga: Teknologi Wireless Charging 80 Watt Xiaomi

Intinya kalau kita jaga DOD 20% 3x lebih awet dari DOD 40%DOD 40% 2X lebih awet dari DOD 60%, DST. Tapi, kalau persen baterai barada pada angka 20% kebawah. Arus yang masuk baterai akan lebih besar, jadi baterai beresiko lebih panas (poin 2). Intinya memang menjaga pada 40% saja.

Kesimpulan

Sebaiknya men-charger baterai sampai 80-85% terus pake sampe 30-40%, jadi DOD +- 40%. Kalau dibilang ribet emang iya, makanya tergantung kebutuhan setiap individu masing-masing. Kalau orangnya suka berpergian dan jarang dekat stop kontak, lebih baik isi sampe 100%. Sebenarnya penggunan terbaik itu ada pada (50% max discharge 10%). Cuma pasti meribertan sekali, bahaimana kalau tiba-tiba mati lampu atau tidakada tempat men charger.